Selamat Datang!

Sabtu, 26 April 2014

AKI DAN AKB MENURUT SDKI KETRAMPILAN KEBIDANAN DASAR


 1.        Angka Kematian Bayi (AKB)
Infant Mortality Rate atau Angka kematian bayi adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Indikator ini terkait langsung dengan terget kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat tinggal anak-anak termasuk pemeliharaan kesehatannya. AKB cenderung lebih menggambarkan kesehatan reproduksi. AKB relevan dipakai untuk memonitor pencapaian terget program karena mewakili komponen penting pada kematian balita.
Data kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui survei, karena sebagian besar kematian terjadi di rumah, sedangkan data kematian di fasilitas pelayanan kesehatan hanya memperlihatkan kasus rujukan. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia berasal dari berbagai sumber, yaitu Sensus Penduduk, Surkesnas/Susenas, dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).
Beberapa tahun terakhir AKB telah banyak mengalami penurunan yang cukup besar meskipun pada tahun 2001 meningkat kembali sebagai dampak dari berbagai krisis yang melanda Indonesia. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia dari tahun 1995 sampai dengan tahun 1999 cenderung menurun yakni 55 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1995 dan terus menurun hingga mencapai 46 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1999, kemudian naik menjadi 47 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2000.
Menurut hasil Surkesnas/Susenas, AKB di Indonesia pada tahun 2001 sebesar 50 per 1.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2002 sebesar 45 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang cukup besar, yaitu menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup sementara hasil SDKI 2007 hasilnya menurun lagi menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup, angka ini berada jauh dari yang diproyeksikan oleh Depkes RI yakni sebesar 26,89 per 1.000 kelahiran hidup. Adapun nilai normatif AKB yang kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock), antara 40-70 tergolong sedang, namun sulit untuk diturunkan, dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan.
Untuk di Sulawesi Selatan, Angka Kematian Bayi menunjukkan penurunan yang sangat tajam, yaitu dari 161 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 55 pada tahun 1996, lalu turun lagi menjadi 52 pada tahun 1998 kemudian pada tahun 2003 menjadi 48 (Susenas 2003). Ini berarti rata-rata penurunan AKB selama kurun waktu 1998–2003 sekitar 4 poin. Namun, menurut hasil Surkesnas/Susenas 2002-2003, AKB di Sulawesi Selatan sebesar 47 per 1.000 kelahiran hidup sedangkan hasil Susenas 2006 menunjukkan AKB di Sulsel pada tahun 2005 sebesar 36 per 1.000 kelahiran hidup, dan hasil SDKI 2007 menunjukkan angka 41 per 1.000 kelahiran hidup. Fluktuasi ini bisa terjadi oleh karena perbedaan besar sampel yang diteliti, sementara itu data proyeksi yang dikeluarkan oleh Depkes RI bahwa AKB di Sulsel pada tahun 2007 sebesar  27,52 per kelahiran hidup. Sementara laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kematian bayi pada tahun 2006 sebanyak 566 bayi, atau 4,32 per 1000 kelahiran hidup, mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 709 kematian bayi atau 4,61 per 1.000 kelahiran hidup. Untuk tahun 2008 ini jumlah kematian bayi turun menjadi 638 atau 4,39 per 1000 kelahiran hidup.
2.      Angka Kematian Ibu (AKI)
AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan-terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan. Harapan  kita agar bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR).
Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey yang dilakukan secara khusus seperti survey di Rumah Sakit dan beberapa survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas. Dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi & Kesehatan Indonesia (SDKI), maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya.

Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten, digunakan data hasil SKRT. Menurut SKRT, AKI menurun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992, kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan survey mengenai AKI. Pada tahun 2002-2003, AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI, kemudian menjadi 248 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010, yaitu sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup, maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya, diperkirakan target tersebut dimasa mendatang sulit tercapai.

33.      Angka Kematian ibu dan Bayi 2009
Angka   Kematian   Ibu   (AKI)   dan   Angka   Kematian   Bayi   (AKB) di   Indonesia masih sangat   tinggi.  Menurut   Survey   Demografi  dan   Kesehatan   Indonesia   (SDKI)  pada   tahun 2002   Angka    Kematian    Ibu   (AKI) sebesar    307/  100.000    kelahiran  hidup,  dan   Angka Kematian   Bayi   (AKB)  sebesar   35/   1000 kelahiran  hidup, sedangkan tahun 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 228/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi   (AKB)   sebesar  34/   1.000  kelahiran    hidup.  5 Tingginya   Angka   Kematian   Ibu   dan Angka   Kematian     Bayi dapat   menunjukkan     masih   sangat  rendahnya    kualitas  pelayanan kesehatan. Pada tahun 2008        Angka Kematian Ibu (AKI)  di Provinsi Jawa Timur sebesar 83,19/100.000     kelahiran   hidup   dan  Angka    Kematian    Bayi  (AKB)    sebesar   32,2/1000 kelahiran   hidup.12   Untuk    itu  pemerintah   membuat    berbagai   strategi  untuk  akselerasi menurunkan      AKI   dan   AKB,    karena   penurunan    AKI   dan   AKB    merupakan     indikator keberhasilan derajat kesehatan di suatu wilayah.
           Tabel 1.1 Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kabupaten Sidoarjo Tahun 2008 s/d 2009.
                               Kabupaten Sidoarjo                    
  No
                     Tahun 2007                      Tahun 2008                 Tahun 2009          
 1   AKI       91,8/100.000 KH           112   /100.000 KH      92/100.000  KH                                                 

 2    AKB       12,65/1000 KH              12,62/1000 KH         11,12/1000 KH      

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kab. Sidoarjo 2007 s/d 2009



DAFTAR PUSTAKA

PANDUAN OBSERVASI DAN WAWANCARA TENTANG CARA MERAWAT DIRI KETIKA HAMIL

A.    Topik
Cara merawat diri ketika hamil.
B.     Judul
Pengetahuan ibu mengenai perawatan diri ketika hamil.
C.     Subjek
Ibu hamil sehat dengan beberapa anak yang telah tumbuh sehat.
D.    Panduan
1.      Sasaran observasi dan wawancara
Ibu hamil sehat dengan beberapa anak yang telah tumbuh sehat.
2.      Yang diobservasi
Pengetahuan ibu mengenai perawatan diri ketika hamil.
3.      Kondisi subjek
Bahagia dengan keadaan fisik dan emosinya baik.
E.       Wawancara:
Bidan                   : “  Assalamu’alaikum bu? “ ( Tersenyum dan berjabat tangan )
Ibu                        : “ Wa’alaikumsalam ” ( membalas tersenyum )
Bidan                   : “ ehm... Ibu Ria ya? ”
Ibu                       : “ Iya. Ini bu bidan Fatihah kan? Bagaimana kabarnya bu? ” ( sambil menepuk pundak )
Bidan                   : “ Lama tidak bertemu ya bu sejak kelahiran putri pertamanya. Baik saya bu Ria. Bu Ria sekarang sedang mengandung ya bu? Putra ke berapa? ” ( sambil mengelus perut ibu Ria )
Ibu                       : “ Iya bu rencananya saya akan ke tempat ibu Fatihah untuk memeriksakan kandungan sabtu ini tapi keduluan bertemu ibu disini. Ini putra ke 2 bu, yang pertama si Putri itu bu. ”
Bidan                   : “ Jadi, ini putra ke dua ya bu Ria. Ibu Ria ini sudah punya putra 2 tapi masih cantik dan sehat saat hamil. Dulu Putri juga sehat ya bu saat dilahirkan? ”
Ibu                       : “ Iya bu, Alhamdulillah berkat pengetahuan dari buku dan penjelasan dari bu bidan saya bisa merawat diri dan bayi saya bu. ”
Bidan                   : “ Alhamdulillah bu, ( Sambil memnyentuh telapak tangan ibu ) Bu kebetulan saya mendapat tugas untuk mewawancarai ibu hamil mengenai cara perawatan diri bu. Menurut saya ibu cocok untuk kriteria tersabut. Bagaimanaibu Ria bersedia untuk saya wawancarai? ”
Ibu                       : “ Gimana ya bu saya malu bu? ”
Bidan                   : “ Tidak apa – apa bu hanya di wawancara mungkin dari wawancara ini banyak ibu yang bisa merawat diri seperti ibu dan dapat mempunyai putra pitri yang sehat – sehat seperti ibu. Bagaimana bu? ”
Ibu                       : “ Baiklah bu saya bersedia untuk diwawancarai semoga dapat memberi manfaat bagi orang lain ya bu. ”
Bidan                   : “ Wah ibu Ria sangat mulia. Ibu Ria ini sudah berkeluarga berapa tahun ya bu? ”
Ibu                       : “ Saya sudah menikah 5 tahun bu. Saya umur 18 tahun dan suami saya umur 20 tahun. ”
Bidan                   : “ Masih muda ya bu. Ibu sekarang tinggal dengan suami atau dengan orang tua ibu? ”
Ibu                       : “Saya sekarang tinggal dengan suami bu tapi seminggu sekali kami sekeluarga datang ke rumah orang tua saya atau ke rumah mertua saya.”
Bidan                   : “ Oh sangat harmonis ya keluarga ibu Ria ini. Ibu dan suami sekarang bekerja apa? ”
Ibu                       : “ Kalau saya itu bekerja sebagai guru di sebuah SD bu, kalau suami saya bekerja sebagai guru SMA. ”
Bidan                   : “ Wah! keluarga guru ya bu. Ibu sekarang sudah mempunyai 2 putra Tapi ibu masih cantik dan sehat, bayi ibu juga sehat. Kalau boleh saya tau bagaimana cara merawat diri? ”
Ibu                       : “ Cara saya merawat diri saya, kalau dari makanan bu, saya makan – makanan yang bergizi contohnya yang bervitamin seperti jus, yang berprotein saya makan ikan goreng maupun pepes, yang berkarbohidrat seperti nasi dan setiap pagi saya minum susu bu ”
Bidan                   : “ Wah ibu hebat sekali tahu beberapa jenis makanan yang dibutuhkan oleh tubuh. Ibu Ria tadi belum menjelaskan tentang makanan berlemak?”
Ibu                       : “ Makanan berlemak ya bu? Saya jarang makan makanan yang berlemak bu, saya masak juga tidak memakai bumbu penyedap bu.”
Bidan                   : “ Baik itu bu, Ibu Ria juga sering mengikuti senam hamil bu? ”
Ibu                       : “ Saya mengikuti kelas ibu hamil bu jadi saya slalu ikut senam dan saya praktikan dirumah bu. ”
Bidan                   : “ Lalu apa manfaat dari senam hamil bagi ibu Ria? ”
Ibu                       : “ Manfaatnya itu banyak bu contohnya saya bisa mengatasi masalah seputar kehamilan, cara mengatasi ketakutan dalam persalinan, lebih erat dengan suami dan calon bayi, mengetahui tanda – tanda persalinan, cara persalinan yang baik, merawat dedek bayi bu. Masih banyak lagi manfaat dari kelas ibu hamil bu. ”
Bidan                   : “ Oh jadi ibu puas dengan kelas ibu hamil tersebut ? ”
Ibu                       : “ Jelas saya puas bu! ” ( sambil tersenyum )
Bidan                   : “ Kemudian bu bagaimana cara merawat tubuh ibu saat hamil? ”
Ibu                       : “ Dari baca di artikel kalau membersihkan kulit itu saat hamil memakai pembersih wajah yang tidak mengandung residu atau mengandung gliserin dan jika mebersihkan muka lebih baik tidak sampai lebih dari 2 kali untuk mencegah kulit kering bu. Kalo kosmetik saya lebih suka tidak memakai bu tapi kalau terpaksa ya sedikit saja memakainya. Itu untuk merawat kulit saya bu. ”
Bidan                   : “ Jadi, begitu bu Ria tidak salah jika ibu terlihat cantik natural. Lalu tentang merawat maaf bu, alat kelamin bagaimana bu? ”
Ibu                       : “ Oh tentang itu ya bu, saya slalu mengganti celana dalam jika terasa lembab maupun basah, saya juga memakai celana dalam berbahan katun sehingga lebih dapat menyerap dan tidak panas bu. Pakaian pun juga yang bahan katun kemudian tidak ketat sehingga tidak menganggu aktivitas saya, bu.”
Bidan                   : “ Wah bagus bu itu benar tindakan ibu Ria kemudian bagaimana cara ibu membersihkan alat kelamin ibu. ”
Ibu                       : “ Saya baru berusaha untuk membersihkan alat kelamin dari depan kebelakang bu karena saya dulu belajar dari orang tua saya dengan cara membersihkan dari belakang ke depan bu. ”
Bidan                   : “ Usaha yang bagus itu bu Ria, tadi ibu sudah menceritakan tentang merawat kulit saat hamil, kelas ibu hamil, dan kemudian tentang cara merawat alat kelamin. Ketika ibu Ria hamil akan mengalami beberapa keluhan seperti mual, sering berkermih, atau mungkin susah tidur bagaimana cara ibu mengatasi masalah tersebut ?”
Ibu                       : “ Alhamdulillah bu, tentang keluhan – keluhan tersebut saya tidak memikirkannya terlalu berat karena saya dapat dukungan dari suami maupun keluarga saya bu. Jika tiap saya mersa mual dan muntah saya minum air yang banyak lama kelamaan hilang bu, kalau sering BAK itu saya melakukan senam kegel yang saya baca dari buku manfaatnya saya dapat mengatasi BAK bu. Dari semua keluhan tersebut saya sugestikan bahwa itu normal dan setiap ibu hamil banyak merasakannya bu.
Bidan                   : “ Keluarga ibu sangat harmonis ya, Ibu sering memeriksakan kandungan ibu ke tenaga kesehatan atau tidak bu? ”
Ibu                       : “ Saya teratur mbak memeriksakan kandungan saya, saya suka bertanya kepada ibu bidan tentang masalah – masalah yang saya alami bu. ”
Bidan                   : “ Berapa kali ibu pergi ke tenaga kesehatan bu? ”
Ibu                       : “ Saya memeriksakan kandungan kemaren itu 5 kali bu. Saking pengen tahu tentang masalah kehamilan ini bu. ”
Bidan                   : “ Jadi, ibu sangat memperhatikan kandungan ibu ya? ”
Ibu                       : “ Iya bu bidan karena saya ingin saya dan bayi saya sehat. Dan Alhamdulillah si Putri sekarang sehat bu bidan. ”
Bidan                   : “ Iya bu Alhamdulillah. Ibu Ria pernah bepergian jauh ketika ibu Ria hamil yang pertama maupun yang kedua? ”
Ibu                       : “ Pernah bu, ya itu saat saya sedang mengandung Putri. Kalau tidak salah waktu saya mengandung bebarengan dengan hari raya Idul Fitri. ”
Bidan                   : “ Oh iya bu, bagaimana cara ibu mempersiapkan diri untuk berpergian padahal ibu sedang mengandung? ”
Ibu                       : “ Saya bersemangat waktu itu bu karena saya ingin berkumpul dengan keluarga besar saya. Saya bepergian dengan membawa koper berisi beberapa celana dalam sama baju bu walau tidak lebih dari 1 minggu tapi saya tetap berjaga – jaga. Kemudian saya tidak lupa membawa minuman dan makanan ringan seperti biskuit agar tidak lapar didalam perjalanan, tidak lupa suplemen saya bawa bu. ”
Bidan                   : “ Jadi, ibu tetap memperhatikan kehamilan ibu saat berpergian ya? Kemudian bagaimana dengan pakaian dan sepatu yang ibu kenakan bermodel apa? ”
Ibu                       : “ Saya menggunakan baju yang menyerap keringat bu. Memakai sandal yang tidak berhak agar dapat berjalan dengan nyaman bu. ”
Bidan                   : “ Lalu, Ibu saat itu sedang hamil dan ibu hamil sering kencing. Bagaimana ibu Ria menanggapinya? ”
Ibu                       : “ Saya ketika terasa ingin berkermih, suami saya langsung sigap mencarikan Pom bensi atau pun masjid agar bisa kencing. Jadi tidak ada masalah tentang itu bu. ”
Bidan                   : “ Bagus itu bu karena ibu tidak menahan kencingnya. Bu Ria bagaimana perawatan tubuh ibu setelah melahirkan Putri dulu bu. ”
Ibu                       : “ Setelah saya melahirkan Putri, saya belajar senam pasca melahirkan bu. Biar gemuknya agak berkurang bu. ”
Bidan                   : “ Jadi, ibu mengikuti senam pasca melahirkan ya bu? ”
Ibu                       : “ Iya bu, biar suami tetap cinta sama saya. Hasilnya cukup memuaskan bu tubuh saya lumayan kecang daripada sebelumnya. ”
Bidan                   : “ Iya bu itu sangat efektif untuk mengembalikan berat badan seperti semula bu. Ibu memang mempunyai banyak pengetahuan tentang merawat diri saat hamil benar kalau ibu tetap sehat dan cantik selama dan setelah hamil. Ibu maksih atas kesediaannya untuk saya wawancarai. Apa ibu punya sebuah tips agar seperti ibu? ”
Ibu                       : “ Saya seperti ini karena sugesti yang positif, dukungan dari suami dan keluarga besar saya maupun suami. ”
Bidan                   : “ Benar itu bu dukungan itu memberi semangat. Slamat sore bu. Makasih atas kerjasamanaya bu Ria”( Jabat tangan )
Ibu                       : “ Iya bu, Besok sabtu Insya Allah saya akan ke RB ibu.”
Bidan                   : “ Iya bu, nanti saya tunggu. ”
F.        Kesimpulan
1.      Objek dari sisi pengetahuannya mengenai topik “ Cara Merawat Diri Ketika Hamil ” mengerti sekali dengan cara merawat dirinya dan bayinya.
2.      Objek juga mengetahui cara merawat diri ketika bepergian dan cara merawat diri pasca melahirkan.
3.      Kehamilan dengan adanya dukungan suami dan keluarga membuat ibu hamil merasa nyaman dan dapat meringankan beban pikirannya.
4.      Berfikir positif membuat objek menjalani kehamilannya yang ke dua dengan gembira.
5.      Dengan pengetahuan dan kerajinan diri objek membuat objek menjadi sehat untuk dirinya dan sehat untuk bayinya.
G.      Diagnosa
Ny. R Umur 23 Tahun G1P1A0AH1 Umur Kehamilan 9 Minggu Dengan Kehamilan Normal
H.      Prognosa
Keadaan fisik maupun psiko yang dialami oleh objek baik karena objek telah mengeri tentang cara perawatan diri pada ibu yang sedang hamil


KONSELING KB

  Sepasang suami istri datang ke BPS Permata Bunda untuk berkonsultasi sebelum melakukan pemasangan KB. Ibu tersebut memiliki riwayat persalinan caesar pada anak keduanya dan indikasi preeklamsia berat. Kini ibu tersebut sedang menyusui anak keduanya yang berumur 50 hari.
(Tok..tokk..tokkk...)
Bidan Alfi                   : “Silakan masuk...” (sambil membuka pintu)
Pasangan Suami-Isteri : “Iyaa Bu...”
Bidan Alfi                   : “Mari Bu, Pak, silakan duduk...” (sambil menunjuk ke tempat duduk)
“Perkenalkan nama saya bidan Alfi, maaf ini dengan Ibu siapa dan Bapak siapa?” (sambil menjabat tangan)
Ibu Risa                        : “Saya Ibu Risa, dan ini suami saya Pak Wari,” (sambil berjabat tangan)
Bidan Alfi                     : "Oh ya dengan Ibu Risa dan Bapak Wari ya, Bagaimana kabarnya?   Kalau boleh saya tahu, Ibu dan Bapak tinggal dimana ya?”
Bapak Wari                   : “Iya bu, kami baik bu, Kami tinggal di Perum Green House Blok A No. 13 GK V Yogyakarta,”
Bidan Alfi                     : “Kalau boleh saya tahu lagi, apa alasan Bu Risa dan Pak Wari berkunjung kesini?”
Ibu Risa                        : “Begini Bu Bidan, saya sebenarnya ingin KB. Anak saya sudah dua. Dan anak kedua saya ini kemarin lahir caesar.,”
Bapak Wari                 : “ Oh ya bu, Selain itu umur anak kami yang terakhir baru 50 hari.”
Bidan Alfi                     : “Bu Risa umur berapa ya sekarang? Kalau boleh tahu, alasan Ibu Risa melahirkan dengan caesar itu apa?”
Ibu Risa                        : “Umur saya sekarang 28 tahun Bu Bidan. Saya sebenarnya ingin melahirkan secara normal tetapi karena kata Bu Bidan yang lalu ada indikasi preeklamsia berat, jadi mau tidak mau harus dicaesar,”
Bidan Alfi                     : “Lalu, Bu Risa sekarang masih menyusui atau tidak?”
Ibu Risa                        : “Iya saya masih menyusui Bu.”
Bidan Alfi                     : “Oh begitu ya Bu. Tadi ibu Risa mengatakan ingin KB ya bu, karena mengalami pre eklamsia berat ibu tidak dianjurkan hamil kembali untuk menjaga kesehatan ibu. Jadi KB yang cocok adalah KB jangka panjang. “
Ibu Risa                        : “ KB jangka panjang itu apa bu? ”
Bidan Alfi                     : “ KB jangka panjang itu IUD, Implan, dan suntik 3 bulan. Karena ibu mempunyai riwayat darah tinggi ibu dianjurkan memakai IUD. ”
Bapak Wari                   : “ Emang kenapa gak boleh pake Implan dan suntik 3 bulanan? ”
Bidan Alfi                     : “ Karena Implan dan Suntik 3 bulanan itu merupakan kb hormonal sehingga dapat mempengaruhi kesehatan ibu terutama pada tekanan darah ibu. Gimana pak, paham? ”
Bapak Wari                   : “ Oh ya bu bidan saya paham.”
Bidan Alfi                     : “ Tapi, ada cara lain yaitu menggunakan kondom. Bagaimana ibu dan bapak pilih yang mana? ”
Ibu Risa                        : “ Oh ya bu, saya pilih IUD saja. ”
Bidan Alfi                     : “Oh IUD ya Bu. Kalau Bapak Wari setuju atau tidak dengan pilihan Ibu?”
Bapak Wari                   : “Emmm, kalau saya setuju saya dengan istri saya, yang penting istri saya sehat,”
Bapak Wari                   : “Oh iya Bu Bidan, kalau boleh saya tahu kelebihan IUD itu apa saja ya? Kenapa banyak yang memilih KB jenis IUD?”
Bidan Alfi                     : “Baik, begini Pak, Bu, IUD adalah salah satu alat kontrasepsi jangka panjang. Bisa digunakan sekitar 8-10 tahun. IUD ini memiliki beberapa jenis, antara lain copper T380A dan spiral atau Lipes Loop. Untuk yang jenis copper T bentuknya seperti huruf T, sedangkan yang spiral bentuknya spiral. Bagaimana Pak Bu sudah paham?”
Keduanya                     : “Oh ya, paham,” (sambil mengannggukkan kepalanya)
Bapak Wari                   : “ Ibu Alfi bagaimana cara pemasangan IUD bu? “
Bidan Alfi                     : “ oh ya pak cara pemasangannya nanti IUD akan dimasukkan ke dalam rahim ibu melalui jalan lahir ibu. Jangan khawatir bu nanti tidak akan sakit.  “ ( sambil memegang tangan. )
Ibu Risa                        : (wajah cemas) iya bu.
Bapak Wari                   : “ Gimana mah brani enggak? ”
Ibu Risa                        : “ Berani kok. Insya Allah. ”
Bidan Alfi                     : “ Baik ya ,IUD ini memiliki efek samping berupa perdarahan, nyeri terutama saat menstruasi dan IUD mungkin bisa bergeser, Bagaimana ibu bapak masih ingin menggunakan IUD?
Ibu Risa                        : “ Iya bu mau “
Bapak Wari                   : “ Iya saya setuju sama istri saya ”
Bidan Alfi                     : “ Baik ya,  bapak ibu sudah memutuskan untuk memakai IUD mari kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut. ”
( Sudah melakukan pemeriksaan dan pemasangan IUD. Setelah pemasangan ibu, bapak dan bidan kembali duduk )
Bidan Alfi                     :  “ Ibu ini sudah selesai pemasangannya, ibu bisa  berkunjung kembali 2 minggu lagi tapi jika ada keluhan ibu dapat kembali datang kemari ya bu. “
Ibu Risa                        : “ Iya bu Bidan ”
Bapak Wari                   : “Iya bu, permisi!  Mari bu. ” ( berjabat tangan )
Bidan Alfi                     : “ Iya pak bu hati – hati dijalan. ”